Apa itu LIMA?

Learning Interest and Modalities Assessment (LIMA) adalah model asesmen pendidikan yang digunakan untuk mengidentifikasi dan memahami kecenderungan minat belajar, gaya belajar, dan kondisi belajar anak dalam konteks pascabencana, sehingga informasi tersebut dapat digunakan sebagai dasar perencanaan pembelajaran yang responsif dan adaptif sesuai kebutuhan anak.

Secara konseptual, LIMA terdiri atas tiga dimensi utama:

1

Learning Interest

(Minat Belajar)

Menggambarkan kecenderungan anak untuk menunjukkan perhatian, ketertarikan, rasa ingin tahu, kesenangan, partisipasi, dan keterlibatan terhadap berbagai pengalaman atau aktivitas pembelajaran. Dimensi ini membantu pendidik memahami aktivitas yang cenderung menarik perhatian dan mendorong keterlibatan anak dalam belajar.

2

Learning Modalities

(Gaya Belajar)

Menggambarkan kecenderungan anak dalam merespons dan terlibat dalam pengalaman belajar melalui berbagai bentuk pengalaman sensorik dan aktivitas, seperti visual, auditory, dan kinesthetic. Dalam LIMA, modalitas tidak dipahami sebagai "learning style" yang bersifat tetap dan tidak digunakan untuk menetapkan bahwa seorang anak hanya dapat belajar melalui satu cara tertentu. Sebaliknya, modalitas digunakan untuk membantu pendidik menyediakan pengalaman belajar yang multimodal dan bervariasi.

3

Post-Disaster Learning Conditions

(Kondisi Belajar Pascabencana)

Menggambarkan kondisi kontekstual yang berkaitan dengan kesiapan, kenyamanan, keterlibatan, adaptasi, dan keberlanjutan pengalaman belajar anak setelah mengalami situasi bencana. Dimensi ini penting agar perilaku belajar anak tidak ditafsirkan hanya sebagai karakteristik individual, tetapi dipahami dalam kaitannya dengan lingkungan dan pengalaman pascabencana.

Batasan Penggunaan LIMA

Batasan Penggunaan LIMA

LIMA bukan alat diagnosis klinis, psikologis, psikiatris, maupun diagnosis gangguan perkembangan. LIMA tidak dirancang untuk menentukan apakah seorang anak mengalami trauma, gangguan perkembangan, gangguan belajar, gangguan psikologis, atau kondisi klinis lainnya. Hasil LIMA juga tidak boleh digunakan untuk mengelompokkan atau melabeli anak secara permanen.

“Assess to understand, not to label.”

LIMA digunakan untuk memahami kondisi dan kecenderungan belajar anak pada suatu waktu dan konteks tertentu, kemudian menggunakan informasi tersebut untuk membantu pendidik menyediakan pengalaman belajar yang lebih fleksibel, inklusif, aman, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan anak. Jika hasil asesmen menunjukkan adanya indikasi yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, maka asesmen tersebut harus dilakukan menggunakan instrumen diagnostik yang sesuai oleh tenaga profesional yang memiliki kompetensi di bidangnya.